PenelitiPeneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi bahan bakar alternatif berupa bensin dari minyak kelapa sawit.
Penelitian ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta bersama tim riset ITS, dengan anggota peneliti yang disebutkan dalam artikel yaitu Syahrin Haifa.
Inovasi ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi besar kelapa sawit Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi bahan bakar alternatif berupa bensin dari minyak kelapa sawit.
Penelitian ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta bersama tim riset ITS, dengan anggota peneliti yang disebutkan dalam artikel yaitu Syahrin Haifa. Inovasi ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi besar kelapa sawit Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Teknologi yang digunakan adalah metode catalytic cracking, yaitu proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul hidrokarbon yang lebih kecilHidrokarbon tersebut memiliki karakteristik yang mirip dengan bensin konvensional sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Pada tahap awal penelitian, proses konversi minyak sawit menggunakan katalis berbasis alumina. Metode ini mampu menghasilkan sekitar 60 persen bensin dari bahan baku minyak sawit (CPO), namun membutuhkan suhu reaksi yang cukup tinggi yaitu sekitar 420°C
Penelitian kemudian dikembangkan dengan menggunakan katalis bimetalik nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO). Penggunaan katalis ini meningkatkan efisiensi proses sehingga hasil konversi bensin dapat mencapai sekitar 83 persen dengan suhu reaksi yang lebih rendah yaitu sekitar 380°C.
Bensin yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek (C5–C11) yang merupakan komponen utama bensin. Teknologi ini juga dirancang dengan konsep minim limbah, karena gas hasil samping dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar untuk memanaskan reaktor
Pengembangan teknologi bensin sawit ini diperkirakan dapat menghemat penggunaan BBM hingga sekitar 10 persen. Selain itu, bahan bakar ini berpotensi digunakan pada berbagai mesin, termasuk mesin pertanian yang lebih mudah dimodifikasi untuk bahan bakar alternatif
Inovasi ini menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel, tetapi juga dapat diolah menjadi bensin. Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat mendukung ketahanan energi nasional serta pengembangan energi terbarukan di Indonesia
Pengembangan bensin dari kelapa sawit oleh peneliti ITS merupakan inovasi penting dalam bidang energi alternatif. Teknologi ini berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta mendukung kemandirian energi Indonesia di masa depan.
Sumber :
- Safrina , Azwa dan Setuningsih, Novianti. (08 April 2026). ITS Kembangkan Bensin Kelapa Sawit, Perkirakan Hemat 10 Persen BBM Konvensional. Kompas.com. https://surabaya.kompas.com/read/2026/04/08/051200578/its-kembangkan-bensin-kelapa-sawit-perkirakan-hemat-10-persen-bbm
- Alfarisi , Yasmin Najla. (09 April 2026). Peneliti ITS Temukan Cara Ubah Minyak Sawit Jadi Bensin, Hasilnya Tembus 83 Persen!. Teknologi.id.
https://teknologi.id/trending-viral/peneliti-its-temukan-cara-ubah-minyak-sawit-jadi- bensin-hasilnya-tembus-83-persen





